********************************************************
------------------------------------------------------------------------
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

24 Januari 2018

Controlled Atmosphere Storage


Controlled Atmosphere Storage (CAS) adalah sebuah ruang penyimpanan terkondisi, yang mana bukan hanya suhu dan kelembabannya (RH) saja yang dikontrol namun juga konsentrasi unsur udara seperti Oksigen (O2), Korbondioksida (CO2) dan Nitrogen (N2). Ruangan ini (CAS) sangat cocok digunakan untuk komoditi kering dan juga komoditi segar seperti sayuran dan buah buahan.

Komoditi Kering

Biji bijian, kacang kacangan dan sebagainya disimpan di dalam CAS, terutama adalah untuk mengendalikan hama serangga. Sebagian besar hama serangga tidak dapat bertahan hidup tanpa oksigen atau dalam kondisi dimana kadar karbondioksida ditingkatkan. Perlakuan seperti ini pada biji bijian bisa berlangsung selama beberapa minggu pada temperatur dibawah 15 deg C.

Untuk bisa membasmi hama secara menyeluruh pada biji bijian kering ( kandungan air kurang dari 13%) dengan konsentrasi CO2 pada ruangan diatas 35% (V/V) pada suhu 25deg C biasanya membutuhkan waktu 15 hari. Kondisi diatas bisa didapatkan dengan cara memasukkan CO2 murni atau Nitrogen ke dalam ruangan.

Buah dan Sayuran

Metode ini paling sering digunakan untuk penyimpanan apel dan pir, dimana penggabungan antara tindakan mengatur komposisi udara dengan suhu yang rendah akan memperlambat penurunan kualitas dan memungkinkan penyimpanan dalam waktu yang lama.

Penyimpanan jangka panjang untuk sayuran dan buah buahan menuntut kondisi yang bisa menghambat proses pematangan dan penuaan, sehingga rasa dan kualitas bisa dipertahankan. Pematangan ditunda dengan cara mengurangi kandungan oksigen dan meningkatkan kandungan CO2 pada ruangan pendingin, sehingga pernapasan berkurang.

Di dalam CAS sayuran dan buah bisa disimpan selama 2 sampai 4 kali lebih lama dari biasanya dengan mempertahankan kualitas dan kesegarannya.

Hasil Penggunaan CAS


Varieties
Cold Storage
CAS
Apple
5-6 bulan
8-12 bulan
Korla Bergamot Pear
3 bulan
6-8 bulan
Navel Orange
3 bulan
6 bulan
Kiwi
2 bulan
6-8 bulan
Peach
3-4 minggu
6-8 minggu
Cherry
20-30 hari
60-80 hari
Blueberry
1-3 bulan
3-5 bulan
Castanea
3-5 bulan
8-10 bulan
Garlic Sprous
3-4 bulan
8-10 bulan
Tomato
1 bulan
6 bulan

Principle Diagram

Apabila anda mempunyai kebutuhan controlled atmosphere storage, silahkan menghubungi:

PT Kumpel Durat
Talavera Office Park 28th floor
Jl Letjend Simatupang kav.22-26
Jakarta 12430

PIC: Hafit Isandono
Phone: 021 7599 9876
Fax: 021 7599 9888
Email: hafit.isandono@kumpel.co.id


19 Mei 2017

Perbandingan slurry ice dan flake ice


VARIABLE
FLAKE ICE
SLURRY ICE1
Shelf-life
5 hari
15 hari
Cakupan dingin
Tidak merata
Merata dan cepat
Ikan memar/rusak
Risiko besar
Risiko kecil
Penambahan berat ikan (cod)
Tidak ada
+4%
Konsentrasi Sodium Chloride
Medium
Tinggi
1http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3081589/

perbandingan ice slurry dan ice flake terhadap pengawetan ikan

Proses Pembentukan Ice Slurry

Secara umum pembentukan ice slurry terdiri dari tiga tahap, yaitu Supersaturation, Nucleation, dan Grow (pertumbuhan). Selain itu terdapat proses attrition, agglomeration dan ripening yang terjadi pada ice slurry generator tertentu   (E Stamatiou et al.,2003).

Supersaturation

Supersaturation hanya terjadi apabila gaya pembawa terpenuhi, oleh karena itu supersaturation  dari ice slurry membutuhkan larutan. Hal ini membuat larutan tidak dalam kestabilan dan terjadi perbedaan potensial kimia (Δμ) antara fase larutan dan kristal padat. Dimana liquid adalah larutan awal antara air dan pelarut, sedangkan solid adalah fraksi es.

Δμ = μ1iquid(T) – μsolid(T)

Pada kasus pembangkitan ice slurry, larutan supersaturated dengan air terjadi. Setelah awal nucleation ice slurry  terbentuk, yang mengurangi supersaturasi pada larutan. Ice crystal dapat terbentuk sampai perbedaan potensial kimia (Δμ) dikurangi pada kondisi saturasi. Perbedaan dalam potensial kimia terjadi karena temperatur atau tekanan pembawa gaya. Supersaturasi dapat  terjadi oleh supercooling dari larutan saat setimbang temperatur atau dengan mendapatkan kesetimbangan temperatur melalui perubahan tekanan. Untuk ice slurry artinya larutan harus membawa ke triple point, dimana air secara parsial membeku untuk membuat perbedaan potensial kimia yang dibutuhkan untuk kristalisasi. Pendinginan dan perubahan tekanan adalah dua metode yang diaplikasikan dalam ice slurry generator. Melewati kurva pembekuan dari larutan, temperatur atau tekanan dapat diubah menjadi perbedaan konsentrasi. Laju dari tahap kristalisasi, nucleation dan growth (pertumbuhan) ditentukan oleh level dari surpersaturasi larutan.

Supercooling adalah suatu efek yang sering digunakan untuk teknik memproduksi ice slurry secara baik. Sesuai dengan Hukum Raoult apabila suatu liquid dicampur dengan larutan misalnya methanol, ethylene glycol, propylene glycol, sodium chloride, magnesium chloride, potassium chloride, dan lain-lain, hal ini menjadi larutan yang mempunyai tekanan campuran akan berada diantara tekanan parsial uap kedua komponan yang terikat antara campuran liquid dan membuat titik pendinginan larutan menjadi ikut turun serta mempercepat nucleation.

Nucleation

Dalam larutan supersaturasi, awal nucleasi dapat terbentuk ketika molekul bersama mendapatkan bentuk  kelompok stabil. Hal ini dapat terjadi salah satu antara   homogeneously atau heterogeneously. Dalam homogeneous nucleation, fase baru terbentuk dari liquid murni yang melewati keadaan fluktuasi dari kelompok molekul, untuk air hanya terjadi pada temperatur rendah biasanya  dibawah -40oC (Stamatiou E et al., 2005). Sedangkan untuk heterogeneous nucleation lebih banyak terjadi pada larutan, selain itu permukaan luar yang memberikan objek lain misalnya kotor, partikel dari diniding dapat membantu terjadinya nuclei. Sehingga nucleation dimulai pada temperatur lebih tinggi dibanting homogeneous nucleation. Setelah awal nucleation terjadi nucleation selanjutnya akan mulai terbentuk, hal yang mirip secara teori terhadap konsep pendidihan.

Growth (Pertumbuhan)

Pada pertumbuhan kristal, nuclei membesar untuk menjadi kristal dengan penambahan molekul dari larutan supersaturasi.  Secara umum terjadi tiga tahap, yaitu perpindahan masa secara molekul difusi melalui curah larutan melewati lapisan batas sekitar nucleus, penggabungan molekul menuju dinding dan perpindahan panas secara simultan dari kristal ke bagian curah larutan, untuk mindahkan  panas meliputi perubahan fase.

Ketiga metode ini terjadi pada tipe scraper ice slurry generator. Pada bagian pertumbuhan dibantu oleh putaran shaft auger yang dapat membantu perpindahan masa dan perpindahan panas. Sebenarnya terdapat beberapa konsep kinerja tentang shafh auger, pertama adalah sebagai pengganggu thermal boundary layer secara simultan untuk mencegah terjadinya ice crystal yang mengendap pada dinding (M J Wang et al,.2001; M j Wang et al,.1996; C W Snoek,.1993 ; S P Gladis et al,.1999), yang kedua menyebutkan bahwa ice crystal dari dinding diedarkan menuju tengah ice slurry generator (A B Russel et al,.1999; H G Schwartzberg et al,.1990; R W Hartel,.1996; A J Armstrong,.1979; D P Patience et al,,2001)

Interaksi antara nukleasi dan pertumbuhan kristal menentukan karakteristik kristal yang terbentuk seperti ukuran, distribusi dan morfologi dari kristal Mullin, J. W. (2001). Ukuran dari kristal sangat dipengaruhi oleh laju kristalisasi, proses pendinginan yang cepat akan menghasilkan ukuran kristal yang kecil dan jumlah yang banyak. Sebaliknya , proses pendinginan yang lambat akan menyebabkan ukuran kristal lebih besar dengan jumlah yang sedikit.
Grafik Hubungan Freezing Point
Olahan pribadi dari http://2011.igem.org/Team:KULeuven/Thermodynamics)
Sedangkan dibawah adalah grafik tentang hubungan pembentukan fraksi es dengan temperatur terhadap waktu pendinginan. Titik t0 ke t1 adalah supercoling sampai supersaturasi, kemudian t1 ke t2 adalah titik dimana terbentuknya fraksi es yang disebut nukleasi, sedangkan t2 ke tf adalah panas sensibel sampai terbentuk nukleasi sempurna (T.A. Mouneer et al,.2011). Fluida air nukleasi penuh akan terjadi pada temperatur -40oC (Stamatiou E et al., 2005). Tingkat nukleasi akan mempengaruhi kwalitas dari pembentukan ice slurry.
Grafik Hubungan Temperatur dengan Fraksi Es dan Temperatur (T.A. Mouneer et al,.2011)
Berbeda dengan grafik diatas, meskipun dengan sistem pembuatan ice slurry yang sama, bentuk grafik penurunan temperatur berbeda. Grafik dibawah  menunjukan bahwa titik mulai nukleasi dimulai dari kenaikan temperatur. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan tentang pembentukan ice slurry sebelumnya (E. Stamatioua et al,. 2005). Intinya adalah keadaan nukleasi dapat dilihat dari proses kenaikan temperatur setelah titik beku larutan atau ketika proses timbulnya kristal es meskipun tidak terjadi kenaikan temperatur.
Hubungan Waktu dengan Temperature dan Torsi Scraper (Frank Qin et al, 2006)

SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/proses-pembentukan-ice-slurry/

Larutan Pembentuk Ice Slurry

Dasar ice slurry adalah pemberian larutan pada air, sehingga larutan mempunyai titik beku rendah untuk membuat perbedaan potensial kimia. Penentuan larutan sangat mempengaruhi nilai dari tingkat keefektifan dari pembentukan ice slurry. Sehingga dalam penentuan larutan beberapa aspek harus diperhatikan yaitu volume kapasitas panas dan viskositas dari larutan, selain itu juga tingkat keracunan, korosi dan biaya untuk penambahan larutan ( Guilpart et al,.2006).

Dibawah ini ditunjukkan kapasitas maksimum dan minimum dari berbagai pelarut yang telah diaplikasikan dalam industri dan masuk dalam jangkauan perhitungan yang biasa digunakan. Dimana x adalah konsentrasi dari pelarut dimana minimum di 0 dan T adalah temperatur dimana maksimal kerja sampai 20o C.

Daftar Komposisi Larutan Yang Telah Dikalkulasi (Guilpart et al,. 2006)

Setiap larutan mempunyai efek masing-masing baik dari segi keracunan, mudah terbakar dan lain-lain. Dengan kata lain sebelum memilih larutan sebagai media ice slurry, perlu dipertimbangkan efek-efeknya. Berikut adalah efek-efek dari pemakaian beberapa larutan.
Beberapa kesimpulan dari tabel diatas adalah EA mudah terbakar dan memabukkan sehingga biasanya pada aplikasi ditambahkan isopropanol atau n-butanol untuk mencegah pengkonsumsian. NH3 mudah menimbulkan korosi serta berbahaya terhadap lingkungan serta  NaCl menimbulkan iritasi. Berbeda dengan PG yang bersifat kebalikan dari semua larutan diatas.  LD50 oral rat adalah tingkat racun dari tingkat dosis kematian, parameter ini ditunjukkan dalam milligram adiktif per kilogram pada 50% binatang yang terbunuh pada penelitian di labolatorium. Nilai rendah dari  LD50 berarti larutan sangat berbahaya dan mematikan. Dari data diatas yang berbahasa dari segi LD50. Parameter ini hanya ada pada larutan dua jenis fluida. (Melinder, 2008).

SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/1894/

Ice Slurry Berbahan Dasar Air Laut

Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per mil (‰), yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung dalam 1000 gram air laut (Wibisono, 2004). Salinitas merupakan bagian dari sifat fisikkimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau. Satuan yang ditunjukkan dalam menghitung salinitas adalah part per thousand (ppt)atau dengan practical salinity unit (psu). Kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan air tawar 0,5-5‰ (Nybakken,1992).

Peta Kadar Salinitas (Calor M Laili,2006)
Dalam percobaan, penggunaan air laut untuk pembuatan es biasa diwakilkan dengan larutan NaCl. Hal ini karena komposisi NaCl lebih besar dibanding komposisi ion yang lain. Pada tabel 2.6 yang menunjukkan komposisi ion air laut pada salinitas 35 ppt menunjukkan bahwa NaCl mempunyai 85.65 % dari berat garam air laut. Sehingga tidak heran jika untuk membuat es digunakan larutan NaCl yang lebih mudah didapatkan saat jauh dari garis pantai.

Propertis Air Laut pada Salinitas 35 ppt
K. S. Hilderbrand (1999) menunjukkan grafik hubungan persentase NaCl dalam larutan terhadap salometer (oSAL) dan freezing temperatur. SAL adalah parameter pengukuran dari suatu sensor pembaca salinitas dimana dihitung dengan persen (%) serta nilai maksimal dari 100% berdasarkan batas campuran sampai menjadi larutan eutetic.

Hubungan Larutan NaCl dan Salinitas terhadap freezing point (K.S.Hilderbrand, 1998)

Perubahan fase dari air laut yang menunjukkan timbulnya es untuk ice slurry. Apabila dilihat di diagram perubahan fase suatu liquid, perubahan fase yang ditunjukkan pada gambar diatas berada disamping kanan kubah saturasi diagram T-s. Pada ice slurry perubahan fase dikembangkan dari liquid menjadi es dan liquid, serta dijaga sebelum menjadi solid salt dan es. Penjagaan ini dengan mengatur temperatur titik beku larutan yang dipengaruhi konsentrasi dari larutan tersebut.
Diagram Solid-Liquid Larutan NaCl (http://www.chemguide.co.uk/physical/phaseeqia/saltsoln.html)
Pada grafik NaCl diatas, temperatur eutectic terjadi pada temperatur -21.1 oC. temperatur eutectic adalah temperatur batas dari larutan NaCl yang langsung berubah dari salt solution menjadi solid salt dan es tanpa dimulai ice dan salt solution. Persentase campuratan pada keadaan tersebut disebut mixture eutectic.

Sesuai dengan hukum Racult, apabila suatu liquid diberi larutan maka akan timbul kesetimbangan tekanan karena perbedaan tekanan parsialnya. Begitu juga Air laut yang merupakan campuran antara air dan larutan. Feistel et al (2008) telah meneliti antara hungungan  salinitas terhadap titik beku dari air laut.

Hubungan freezing temperature dengan salinitas air laut (Feistel et al, 2008)

Sedangkan menurut data The Practical Salinity Scale 1978 and the International Equation of State of Seawater 1980, Unesco Technical Papers in Marine Science No.36 menunjukkan tabel hubungan freezing temperatur dengan salinitas air laut pada tabel 2.6

Hubungan freezing temperatur dengan salinitas air laut
SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/ice-slurry-berbahan-dasar-air-laut/

Karakteristik Ice Slurry (Heat transfer dan Pressure Drop)

Riset tentang ice slurry banyak ditujukan tentang aliran ice slurry untuk mengetahui karakteristik thermofluida. Contohnya adalah Gupla dan Frazer (1990) yang menjelaskan ice slurry menggunakan 6% ethylene glycol dengan fraksi es pada ice slurry 0%-20% dan debit antara 1,18 m3/hour dan 2,16 m3/hour serta ukuran ice slurry 0,125 mm dan 0,625 mm pada heat exchanger menghasilkan kesimpulan bahwa kenaikan total koefisien perpindahan kalor sebanding dengan debit dan berbanding terbalik dengan kenaikan fraksi es, tekanan jatuh konstan sampai ice fraction 20% dan naik cepat pada kenaikan fraksi es lebih dari 20%. Sedangkan Kauffeld (1999) melakukan riset dengan membandingkan campuran etanol dan campuran potassium carbonate sebagai bahan ice slurry. Untuk larutan etanol menghasilkan partikel es yang kecil mempunyai koefisien perpindahan kalor yang meningkat seiring dengan bertambahnya fraksi es. Sedangkan dengan campuran potassium carbonate menghasilkan partikel es yang besar dan mempunyai koefisien perpindahan kalor yang menurun dengan bertambahnya fraksi es.

Knodel (2000) menyimpulkan bahwa koefisien perpindahan kalor menurun dengan bertambahnya fraksi es, hasil yang serupa dengan penelitian Gupla dan Frazer (1990). Knodel menjelaskan bahwa pengurangan ini terjadi karena perpindahan aliran fluida dari turbulen ke laminar karena faktor fraksi es yang meningkat.  Hasil berbeda dilakukan oleh Bellas J, Chaer dan Tassou S.A (2002) yaitu dengan mengukur ice slurry dari campuran 5% propylene glycol pada plate heat exchanger dengan fraksi es antara 0 sampai 25% dan debit antara 1-3,7 m3/hour. Bellas menyimpulkan bahwa kenaikan fraksi es antara 0-20% membuat tekanan jatuh naik sekitar 15% lebih dari jarak debit. Sedangkan total koefisien perpindahan kalor naik secara signifikan dengan bertambahnya debit. Variasi fraksi es tidak terlalu kelihatan pada hasil koefisien perpindahan kalor.

N. Putra, Imansyah, Noviandra dan R. Adiprana (2004) menggunakan ice breaker untuk menghasilkan ice slurry dan heat exchanger menghasilkan koefisien perpindahan kalor naik ketika debit dan fraksi es naik. koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh adalah fungsi dari viscositas, reynold number, ukuran ice crystal dan ice fraction.

Stamatiou dan Kawaji (2005) menguji koefisien perpindahan kalor dengan menggunakan vertical rectangular channels yang diberikan heat flux. Hasil dari riset ini adalah terdapat nilai Nuselt Number (Nu) mengalami kenaikan dengan bertambahnya fraksi es dan dinding heat flux. Dengan kata lain peleburan partikel es pada awal pipa karena heat flux sehingga temperatur menjadi relatif rendah, sehingga peranan perpindahan konveksi lebih tinggi dibanding konduksi. Selain itu, kecepatan dipinggir dinding pipa berkuran ketika diberi heat flux, hal ini disebabkan karena tidak terdapatnya ice fraction di pinggir diding panas, sedangkan kecepatan pada fluida murni tidak berpengaruh ketika diberi heat flux.

Lee D.W., Yoon, E.S., Joo, M.C. dan  Sharma, A (2006) melakukan penelitian perpindahan kalor dengan menggunakan 6,5% ethylene glycol pada pipa tembaga diameter 13,84 mm panjang 1500 mm, ice slurry diberikan sirkulasi air panas pada test section pada mass flux antara 800-3500 kg/m2s  dan fraksi es antara 0-25%. Hasil penelitian ini adalah koefisien perpindahan kalor meningkat dengan pertambahan debit dan fraksi es, namun efek fraksi es tidak terlalu siginifikan pada debit tinggi. Pada area debit rendah terjadi kenaikan yang tajam pada koefisien perpindahan kalor pada fraksi es lebih dari 10%.

Niezgoda-Zelasko (2006), Niezgoda-Zelasko-Zalewski (2006) dan Grozdek (2009) melakukan penelitian tentang perpindahan kalor dan tekanan jatuh pada ice slurry dari 10% ethanol dengan menggunakan pipa horisontal yang dipanaskan. Hasilnya adalah pada fraksi es dan kecepatan yang tinggi mempunyai koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh yang tinggi juga. Penggunaan heat flux mempengaruhi sedikit koefisien perpindahan kalor. Pada fraksi es antara 10-15% mempunyai heat transfer coefficient yang naik secara perlahan pada aliran laminar dan tidak ada kenaikan pada aliran turbulen dibanding dengan aliran satu fasa. Melawati nilai tersebut mempunyai kenaikan heat transfer coefficient yang tinggi.

Jean Pierre Nedecarrats-Francoise Strub-Chistophe Peuverl (2009) menggunakan pipa corrugated dengan diberi heat flux pada dinding pada kecepatan ice slurry 0,3-1,9 m/s dan ice fraction 0-30%. Didapatkan hasil bahwa nilai tekanan jatuh dan koefisien perpindahan kalor naik seiring dengan bertambahnya fraksi es dan kecepatan. Pada penelitian ini ditemukan nilai kritis antara tekanan jatuh dan perpindahan kalor yang menjadi titik turun sebelum naik kembali. Perbandingan pipa corrugated dengan pipa halus untuk ice slurry adalah nilai koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh lebih tinggi sekitar 2,5 kali dibanding hasil dari pipa halus.

Penjelasan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa karekteristik ice slurry dipengaruhi oleh larutan pembentuk ice slurry, debit, fraksi es, dan ukuran kristal. Namun hasil diatas masih belum dapat diterima secara luas untuk menghitung perpindahan kalor dan tekanan jatuh dalam heat exchanger (Ayel et al,.2003). Sehingga masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang sifat-sifat aliran ice slurry.

SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/karakteristik-ice-slurry-heat-transfer-dan-pressure-drop/

Definisi Ice Slurry

Ice slurry terdiri dari larutan air yang mempunyai kristal es (E Stamatiou et al.,2003). Ice slurry juga didefinisakan sebagai Fine-crystalline Ice Slurry adalah ice slurry  dengan partikel es yang memiliki ukuran diameter rata-rata sama dengan atau kurang dari 1 mm (Peter W Egolf et al,.2003).

Secara umum ice slurry mempunyai sifat dan karakteristik fisik sebagai berikut  (Nandy P et al,.2006)
  1. Larutan dan padatan dengan temperatur sampai -15 oC.
  2. Dapat dibuat dari larutan brine yang dipakai di bawah nilai titik bekunya dengan beban pendinginan pada temperatur antara -2 oC sampai dengan -50 oC.
  3. Ice slurry akan menjadi larutan yang mempunyai sifat dan perilaku yang sangat berbeda dengan brine yang melarutkannya.
  4. Merupakan fluida 2 fasa non-Newtonian pada fraksi es yang tinggi.
  5. Memerlukan perhitungan pemipaan, pompa, heat exchanger, dan storage tank yang berbeda.
SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/difinisi-ice-slurry/

Ice Slurry Sebagai Pendingin Ikan Nelayan

Terdapat dua aspek lain yang mempengaruhi kwalitas ikan selain pendinginan, yaitu pengerjaan dan kebersiahan. Pengerjaan yaitu memotong bagian yang terluka untuk mencegah efek bakteri, sedangkan kebersihan dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber bakteri dengan langsung membersihkan ikan setelah ditangkap dan menggunakan peralatan yang higienis. Namun dari ketiga efek diatas, efek pendinginan sangat dominan dalam menjaga kwalitas ikan.

Pendinginan ikan pada kapal ikan tradisional biasanya menggunakan es batu dan es flake. Dewasa ini, ice slurry menjadi pilihan populer terbaik karena performa ice slurry lebih baik dibanding es flake untuk menjaga kualitas ikan. Ice slurry sebagai pendinginan ikan dapat menjaga agar tidak ada udara antara ikan dan es, sehingga pendinginan ikan menjadi cepat karena luas permukaan bidang kontak lebih besar dan pertumbuhan bakteri menjadi lebih lambat yang membuat memperpanjang daya hidup ikan. (Wang et al,.1999). Selain itu, karena pembuatan ice slurry dengan pemberian konsentrasi larutan, maka titik beku dari larutan yang lebih rendah membuat secara biologi mengaktifkan fungsi protein dan material probiotik dijaga  dari bahaya panas (T.Vajda,.1999).

Fungsi lain dari ice slurry terhadap pendinginan ikan adalah waktu pendinginan ikan tiga kali lebih cepat dibanding es flake untuk menurunkan sampai temperatur 2oC (J Paul,.2002).
Skema Instalasi Ice slurry sistem untuk Kapal Ikan (Wang et al, 1999)
Es Generator berfungsi sebagai alat penukar kalor dari air laut ke refrigeran sampai temperatur 8oC, kemudian air laut dengan temperatur rendah tersebut mengalir dengan bantuan pompa ke tangki lebih besar untuk menurunkan temperatur. Pada tanki tersebut biasa disebut tangki harvest (pemanen), karena pada tangki ini sistem pembuat ice slurry berada, misalnya scraper dan auger shaft yang membantu mengambil ice slurry yang timbul di dinding tangki. Tangki harvest biasanya dilengkapi oleh injeksi air laut untuk mendorong fraksi es yang berada diatas liquid karena masa jenisnya yang lebih rendah menuju tangki ketiga. Kemudian fraksi es pada tangki ketiga tersebut dicampur dengan air laut dan diaduk agar temperatur tetap terjaga, penambahan air laut ke tangki ketiga yang penuh dengan fraksi es karena faktor teknis dan produk yang didinginkan.

Batas tidak layak makan terhadap temperature penyimpanan ikan (Masyamsir, 2001)
Pemasangan alat pembuat ice slurry di kapal ikan biasanya untuk kapal nelayan berukuran besar (nelayan bulanan). Namun untuk di Indonesia pemanfaatan ice slurry dapat diaplikasikan pada kapal motor (inboard motor). Tidak semua ukuran kapal dapat memanfaatkan alat pembuat ice slurry karena beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain :

  •     Tingkat kestabilan kapal.
  •     Penambahan draft/kedalaman.
  •     Jumlah hasil tangkapan ikan rata-rata.
  •     Lama dan jangkauan mencari ikan.
  •     Luas ruangan yang tertutup dan terbuka.
  •     Tingkat ekonomi.
  •     Kearifan lokal pengguna alat.

Ukuran kapal ikan diatas 20 GT di Indonesia berdasarkan data Kementrian Kelautan dan Perikanan (2010) berjumlah sekitar 155.922 unit atau 26 % dari total kapal ikan di Indonesia. Sistem nelayan di Indonesia dapat disebut gotong royong yang digambarkan dengan pemilik kapal mengajak saudara-saudara dan tetangga yang tidak mempunyai penghasilan untuk ikut berlayar. Dengan kata lain selain, faktor diatas juga harus dipertimbangkan tentang sifat masyarakat Indonesia. Harapanya adalah pendapatan nelayan dapat naik dengan penambahan teknologi namun tidak menghilangkan nilai gotong royong pada nelayan. Karena dengan teknologi baru bisa dimungkinkan pengurangan anggota nelayan pada kapal tersebut.

SUMBER:
https://helmidadang.wordpress.com/2012/12/30/ice-slurry-sebagai-pendingin-ikan-nelayan/

23 Maret 2017

Redundant System pada Cold Storage


Untuk mendapatkan kepastian keamanan kualitas terhadap bahan yang disimpan di cold storage, maka kita bisa memasang redundant system, artinya ada 2 mesin yang diinstal untuk cold storage tersebut yang bermakna juga backup kapasitas sebesar 100%.

Pada system redundant digunakan 2 set mesin yang beroperasi bergantian secara otomatisdengan waktu yang bisa diatur. Jika mesin 1 bekerja maka mesin 2 istirahat dan sebaliknya, sehingga jam kerja kedua mesin tersebut seimbang atau hampir sama.

Dengan system ini troble pada suatu mesin atau jadwal maintenance tidak akan mengganggu suhu ruangan, karena selalu ada satu mesin yang siap bekerja untuk mengondisikan ruangan.

Dengan menginstal redundant system , user akan selalu merasa aman terhadap kualitas bahan yang disimpan di cold storagenya.

Control panel dengan touchscreen untuk setting parameter

10 Maret 2017

Explosion Proof Evaporator dan Air Cooler

Untuk memenuhi kebutuhan sistem pendingin di hazardous area, terutama untuk ruang penyimpanan bahan bahan yang mudah terbakar, maka diperlukan air cooler dan evaporator yang memenuhi persyaratan explosion proof. Persyaratan seperti ini banyak ditemui pada industri kimia, industri prosesing dan oil & gas.

Kami menyediaka air cooler dan evaporator yang memenuhi standar ATEX II 2 G Ex e II T4, setara dengan standard NEC Class 1 Div 1

Ex-Proof Evaporator, contoh aplikasi: suhu 10 C / RH 60%


Ex-Proof Air Cooler, contoh aplikasi: suhu 21 C / RH 60%

Apabila ada kebutuhan, silahkan hubungi:

PT KUMPEL DURAT
Talavera Office Park 28th floor
Jl. Letjend Simatupang kav. 22-26
Jakarta 12430
Phone: 021 7599 9876
Fax: 021 7599 9888
Email: hafit.isandono@kumpel.co.id

PIC: Hafit Isandono (HP:0812 100 6543)

27 Januari 2016

Fin Fan Cooler for Oil and Gas Application


1. COMPLETE UNIT
Vertical / Horizontal Type

V-Type

  • Customized heat exchanger for flexible plant integration
  • Application-oriented dimensions and forms: flatbed, V-form, double coil
  • Material diversity for every aplication
  • High nominal capacity
  • Thermodynamically as well as sound optimized; optimal air supply

2. ONLY FIN COIL UNIT


  • Customized dimension for replacement program
  • Customized piping position and connection
  • material diversity for every application (aluminum, epoxy coated, copper, stainles steel)

SPECIAL TREATMENTS FOR HIGH CORROSIVE AREA

Heresite Coating

All types and sizes of fin fan cooler can be heresite coated with P-413C heat cured phenolic. It will protect against damaging environtments such as salt air, acid rain, and chlorine, as well as most other corrosive atmospheres. 
The coating will extend the life of the fin fan cooler several times compared to an uncoated, and the effect on heat transfers is negligible.

Blygold Coating

Blygold PoluAl has excellent UV resistance, chemical resistance, and impact resistance, covers all cut fin edges, does not crack or flake, and does not bridge between the fins; even on fins with enhanced geometric design.

3. ONLY FAN UNIT

Tailored Products & Services:

Material for Ex-Proof Applications:


for any inquiry, please contact:

PT Kumpel Durat
Talavera Office Park 28th floor
Jl. Letjend TB Simatupang kav.22-26
Jakarta 12430

PIC: Hafit Isandono (0812 100 6543)
phone: 021 7599 9876
fax: 021 7599 9888

03 Desember 2015

AC untuk ruang Operasi

Bangunan RS mempunyai kekhususan teknis yang tidak ditemui di bangunan gedung umum lainnya terutama terkait dengan peralatan dan instalasi tata udara. Rumah sakit adalah bangunan yang berpotensi menularkan penyakit/infeksi. Bakteri, virus, mikroorganisme yang berada di udara (airborne microorganism), jamur, dan sumber-sumber penyakit lainnya yang dapat menular merupakan hal yang harus menjadi perhatian dalam sistem tata udaranya. Untuk mencegah berkembang biak dan tumbuh suburnya mikroorganisme tersebut, terutama untuk ruangan-ruangan khusus seperti di ruang operasi/bedah, ruang Isolasi dll diperlukan pengaturan sistem tata udara yang sesuai dengan tuntutan masing masing ruang, meliputi parameter temperatur, kelembaban udara relatif, kebersihan dengan cara mengatur filtrasi dan ventilasi , tekanan ruang yang positif atau negatif, dan distribusi udara dalam ruangan.

Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan itu, PT Kumpel Durat menawarkan produk berupa sistem AC yang sesuai dengan “Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara pada Bangunan Rumah Sakit” , yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan.

Merujuk ke “Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara pada Bangunan Rumah Sakit” akan didapatkan banyak ruangan rumah sakit yang menuntut persyaratan tinggi dalam pengkondisian udaranya.

Contoh Persyaratan Ruang Rumah Sakit:

RUANG OPERASI / RUANG MELAHIRKAN

Total Pertukaran Udara Minimal: 15/jam
Resirkulasi Udara dalam ruangan : Tidak diperbolehkan
Suhu : 20 – 24 °C
Kelembaban relatif : 50 – 60 %
Tekanan terhadap ruang bersebelahan : positif

RUANG PERAWATAN BAYI (FULL THERM NURSERY)

Total Pertukaran Udara Minimal : 12/jam
Resirkulasi Udara dalam ruangan : Tidak diperbolehkan
Suhu : 24 °C
Kelembaban relatif : 30 – 60 %
Tekanan terhadap ruang bersebelahan : positif

RUANG RADIOLOGI (BEDAH & PERAWATAN KRITIS)

Total Pertukaran Udara Minimal : 15/jam
Resirkulasi Udara dalam ruangan : Tidak diperbolehkan
Suhu : 20 – 27 °C
Kelembaban relatif : 40 – 50 %
Tekanan terhadap ruang bersebelahan : positif

Desain Unggul Sesuai dengan Kondisi Lokal

PT Kumpel Durat memberikan solusi berupa Air Conditioning yang memenuhi berbagai tuntutan regulasi yang berlaku di Indonesia.

Desain Suplai Udara

Desain Suplai udara didesain untuk memberikan kemungkinan aliran udara laminer dengan kecepatan rendah sehingga terasa nyaman dan sekaligus berfungsi untuk membatasi kontaminasi mikroorganisme
Selain itu kapasitas pendinginan, dehumidification, dan volume udara juga telah dirancang khusus sehingga mampu memenuhi tuntutan volume pergantian udara dan suhu ruangan dengan kelembaban relatif (RH) yang sangat rendah walaupun tanpa resirkulasi ( fresh air = 100% ).

Disebabkan kondisi Indonesia yang sangat spesial dengan kelembaban udara luar yang sangat tinggi, maka tuntutan persyaratan ini sangat sulit dicapai hanya dengan menggunakan Air Conditioning/AHU konvensional.

Direct Expansion Technology

Dengan menggunakan teknologi direct expansion yang mana udara langsung didinginkan oleh refrigerant tanpa perantaraan air, maka efisiensi yang tinggi akan dapat diraih oleh sistem ini. Lebih dari itu penghematan energi didapatkan dengan sistim heat recovery yang memanfaatkan panas dari condenser untuk memanasi heater pada Air Handling Unit (indoor unit) nya.

Konfigurasi Air Handling Unit (Indoor Unit)

Unit AHU (indoor) didesain dengan sangat simpel dan compact untuk meminimalkan ruangan AHU sekaligus meminimalkan biaya investasi.

Kehandalan Fitur dengan smart control

Untuk meningkatkan performance, reliability, dan efficiency dari sistem yang dibangun, maka semua komponen dikendalikan dengan menggunakan smart control yang bekerja secara otomatis dengan strategi yang sudah ditanam di dalamnya.

Dilengkapi dengan touchscreen yang akan memudahkan operator dalam memasukkan parameter yang diperlukan dan sekaligus memonitor kondisi ruangan dan parameter AC seperti suhu dan kelembaban cukup dalam satu layar, tanpa harus akses ke ruangan. Hal ini tentu akan memudahkan dan mempercepat proses start up maupun Commissioning.

Selain itu smart control ini akan menyediakan informasi kepada user mengenai waktu operasi, waktu shutdown dan informas mengenai kapan komponen tertentu harus di maintenance atau diganti. Hal ini akan memudahkan user dalam manajemen perawatan.

-------------------------------------------
PT KUMPEL DURAT
Talavera Office Park 28th floor.
Jl. Letjend TB Simatupang kav.22-26
Jakarta 12430
Telp: +62 21 7599 9876
Fax: +62 21 7599 9888
Email: hafit.isandono@kumpel.co.id

PIC: Hafit Isandono (0812 100 6543)

17 April 2015

Radiator (Drycooler) , Oil Cooler, Condenser


Aplikasi:
  •  Machine Cooling
  • Quenching Oil cooling
  • Condenser for water chiller
Medium:
  • Water, Glycol, Oil
  • Quenching Oil
  • All refrigerants
Area:
  • Standard Industry
  • Marine
  • Hazardous Area
Pemilihan material berdasar jenis dan area aplikasi
  
Fin Material
Tube Material
Application
aluminum
copper
Standard Air Handling Unit, Condenser, Radiator
epoxy coated aluminum
( Blue / Gold Fin )
copper
Special ambient
aluminum
aluminum
Chemical industry, corrosive ambient
(ex.: cocoa processing)
copper
copper
Marine, chemical industry
aluminum /epoxy coated
Stainless steel 304/316
high aggressiveness ambient (corrosive)
Stainless steel 304/316
Stainless steel 304/316
Very high aggressiveness ambient (corrosive)

Apabila anda tertarik untuk bertanya lebih lanjut atau ada kebutuhan, silahkan kontak ke:
PT Kumpel Durat
Talavera Office Park 28th Floor
Jl. Letjen TB Simatupang kav.22-26
Jakarta 12430

PIC: Bpk Hafit Isandono (0812 100 6543)
phone: 021-7599 9876
fax: 021- 7599 9888
Email: hafit.isandono@kumpel.co.id

27 November 2014

Memilih Coil AHU/Condenser/Radiator

Tergantung pada material dan agresifitas udara sekitar, maka cara memilih kombinasi material yang benar akan menentukan umur, higenitas, keamanan operasi. karena banyaknya variasi pilihan untuk material fin (sirip), tube (pipa) dan connector (flange, las, dsb) maka dibutuhkan pemilihan yang tepat untuk setiap aplikasi, agar didapatkan solusi yang paling menguntungkan.

Ada beberapa kemungkinan kombinasi material yang bisa kita pilih tergantung dari aplikasi dan lingkungan tempat coil kita akan dipasang :

Fin Material
Tube Material
Application
aluminum
copper
Standard Air Handling Unit, Condenser, Radiator
epoxy coated aluminum
( Blue / Gold Fin )
copper
Special ambient
aluminum
aluminum
Chemical industry, corrosive ambient
(ex.: cocoa processing)
copper
copper
Marine, chemical industry
aluminum /epoxy coated
Stainless steel 304/316
high aggressiveness ambient (corrosive)
Stainless steel 304/316
Stainless steel 304/316
Very high aggressiveness ambient (corrosive)

Selain pemilihan material diatas, untuk aplikasi aplikasi tertentu semisal di perusahaan oil & gas ada lagi beberapa tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki daya tahan coil.

HERESITE COATING

Coil di coating dengan P-413C fenolik. Ini akan melindungi terhadap lingkungan yang merusak seperti udara garam, hujan asam, dan klorin (pada kolam renang), serta sebagian besar atmosfer korosif lainnya.
Lapisan akan memperpanjang umur coil atau radiator beberapa kali lipat dibandingkan dengan coil yang tidak dicoating dan efek pada perpindahan panas bisa diabaikan.


hasil heresite coating




BLYGOLD COATING

Blygold PoluAl memiliki ketahanan UV yang sangat baik, ketahanan kimia, dan ketahanan benturan, melindungi semua sisi fin, tidak retak dan tidak lepas dan tidak pula menjembatani antara sirip.
Ttipisnya lapisan coating dan sedikitnya pigmen organik meminimalkan efek negatif yang biasa ditimbulkan  karena proses coating, seperti pressure drop dan berkurangnya daya hantar panas.

tanpa coating
dengan coating
Apabila anda tertarik untuk bertanya lebih lanjut atau ada kebutuhan, silahkan kontak ke:

PT Kumpel Durat
Talavera Office Park 28th Floor
Jl. Letjen TB Simatupang kav.22-26
Jakarta 12430

PIC: Bpk Hafit Isandono (0812 100 6543)
phone: 021-7599 9876
fax: 021- 7599 9888
Email: pemasaran@kumpel.co.id